Halaman

07/07/13

Dunia Masih Membuka Mata Garuda

Isabell Alika Putri | 10.01 |


Sepakbola Indonesia di tahun 2013 ini ramai dikunjungi pemain-pemain bahkan klub-klub eropa. Selain mereka-meraka yang datang adalah klub besar yang disegani, faktor lain yang membuat kedatangan mereka begitu spesial adalah kesediaan mereka bermain bersama tim nasionaldan kesediaan mereka untuk melakukan kerja sama dengan klub-klub lokal kita. 

29 Juni 2013              
                                                              
“Liga Super Indonesia adalah liga terbaik nomer 2 setelah Thailand di Asia Tenggara”. Begitulah berita yang saya baca secara tidak sengaja melalui timeline akun twitter saya. Setelah saya koreksi di website yang menyuduhi berita tersebut, memang demikian adanya. Ini seakan menjadi satu-satunya berita menggembirakan yang ada di Republik tercita, setelah hampir seluruh berita yang dikabarkan di seluruh stasiun televisi nasional bermuatan perpecahan.

Beberapa waktu setelah berita tersebut dimuat di media masa oleh situs resmi, tak lama kemudian masyarakat biasa ramai-ramai membicarakan tentang Liga Super Indonesia (LSI) dan mempertanyakan prestasi Liga Primer Indonesia (LPI)  karena LSI sebagai liga lokal bukan merupakan satu-satunya kompetisi di negeri ini. Masih ada kompetisi sepakbola lainnya seperti Divisi Utama dan Liga Primer Indonesia (LPI). Namun LSI-lah yang menempati kasta tertinggi. 

Sebagai kasta tertinggi, LSI menyajikan kompetisi yang begitu sengit. Persaingan antar klub di klasemen tidak bisa dikatakan rengang. Jarak antar poin baik di zona bawah ,tengah bahkan atas sangat rapat. Inilah yang membuat LSI musim ini begitu seru karena suatu tim dapat naik dan turun klasemen kapan saja. Sayangnya keadaan seperti ini justru juga diwarnai dengan berbagai masalah yang seakan sudah menjadi trasdisi. Keterlambatan gaji ditambah lagi dengan ulah suporter yang sebenarnya merugikan tim, tidak bisa lepas dari kompetisi LSI seiap musimnya.Berbagai peringatan kepada seluruh insan sepakbola indonesia sudah diusahakan oleh PT Liga Indonesia, namun tetap saja masalah ini tidak menemukan titik terang.

Sudah sepantasnya berita menggembirakan yang datang dari AFC pada kompetisi LSI menjadi bahan pelajaran supaya sepakbola indonesia menjadi lebih baik lagi di mata dunia. Permasalahan yang datang dari fanatisme ,egoisme  pada dasarnya hanya akan memperkeruh keadaan. Tanggung jawab kita yang mengaku sebagai suporter hanya memberi dukungan selama 90 menit, setelahnya bukan menjadi tanggung jawab suporter. Kalah,Imabang, menang adalah konsekuensi yang harus dapat diterima dengan lapang dada karena sepakbola sejatinnya memang terdiri dari tiga unsur tersebut.
Jika kita bisa menjaga hal yang demikian, bukan merupakan hal yang mustahil apabila kita melihat tim merah  putih bersaing di Piala Dunia atau bahkan Divisi Utama dan LPI juga ikut serta berprestasi sampai internasional seperti halnya LSI. Persatuan adalah hal mutlak yang wajib dilaksanakan dalam sepakbola karena sepakbola sendiri butuh kerja sama yang baik. Kerja sama yang tidak hanya berasal dari pemain yang berada di lapangan, tetapi juga suporter dan juga pengurus sepakbola.

Masalah yang menimpa Tim Nasional maupun Liga lokal kita sudah terlalu berlarut-larut. Garuda kita sampai tersungkur di peringkat 170 FIFA sementara Liga lokal terus-menerus diderai masalah, baik itu dari dalam tim maupun dari suporter yang kurang bertanggung jawab. Klub Eropa menyapa tim nasional kita sedangkan klub lokal mendapat kerja sama dari sponsor ataupun tim-tim elit dunia. Semoga kesempatan seperti ini mampu bersama-sama dimanfaatkan dengan bijaksana untuk memperbaiki sepakbola kita.

SELESAI...