Sepakbola Indonesia di tahun 2013 ini ramai
dikunjungi pemain-pemain bahkan klub-klub eropa. Selain mereka-meraka yang
datang adalah klub besar yang disegani, faktor lain yang membuat kedatangan
mereka begitu spesial adalah kesediaan mereka bermain bersama tim nasionaldan kesediaan mereka untuk melakukan kerja sama dengan klub-klub lokal kita.
29
Juni 2013
“Liga
Super Indonesia adalah liga terbaik nomer 2 setelah Thailand di Asia Tenggara”.
Begitulah berita yang saya baca secara tidak sengaja melalui timeline akun
twitter saya. Setelah saya koreksi di website yang menyuduhi berita tersebut,
memang demikian adanya. Ini seakan menjadi satu-satunya berita menggembirakan
yang ada di Republik tercita, setelah hampir seluruh berita yang dikabarkan di
seluruh stasiun televisi nasional bermuatan perpecahan.
Beberapa waktu setelah berita tersebut dimuat di
media masa oleh situs resmi, tak lama kemudian masyarakat biasa ramai-ramai
membicarakan tentang Liga Super Indonesia (LSI) dan mempertanyakan prestasi
Liga Primer Indonesia (LPI) karena LSI
sebagai liga lokal bukan merupakan satu-satunya kompetisi di negeri ini. Masih
ada kompetisi sepakbola lainnya seperti Divisi Utama dan Liga Primer Indonesia (LPI).
Namun LSI-lah yang menempati kasta tertinggi.
Sebagai kasta tertinggi, LSI menyajikan kompetisi
yang begitu sengit. Persaingan antar klub di klasemen tidak bisa dikatakan
rengang. Jarak antar poin baik di zona bawah ,tengah bahkan atas sangat rapat.
Inilah yang membuat LSI musim ini begitu seru karena suatu tim dapat naik dan
turun klasemen kapan saja. Sayangnya keadaan seperti ini justru juga diwarnai
dengan berbagai masalah yang seakan sudah menjadi trasdisi. Keterlambatan gaji
ditambah lagi dengan ulah suporter yang sebenarnya merugikan tim, tidak bisa
lepas dari kompetisi LSI seiap musimnya.Berbagai peringatan kepada seluruh
insan sepakbola indonesia sudah diusahakan oleh PT Liga Indonesia, namun tetap saja
masalah ini tidak menemukan titik terang.
Sudah sepantasnya berita menggembirakan yang datang
dari AFC pada kompetisi LSI menjadi bahan pelajaran supaya sepakbola indonesia
menjadi lebih baik lagi di mata dunia. Permasalahan yang datang dari fanatisme
,egoisme pada dasarnya hanya akan
memperkeruh keadaan. Tanggung jawab kita yang mengaku sebagai suporter hanya
memberi dukungan selama 90 menit, setelahnya bukan menjadi tanggung jawab
suporter. Kalah,Imabang, menang adalah konsekuensi yang harus dapat diterima
dengan lapang dada karena sepakbola sejatinnya memang terdiri dari tiga unsur
tersebut.
Jika kita bisa menjaga hal yang demikian, bukan
merupakan hal yang mustahil apabila kita melihat tim merah putih bersaing di Piala Dunia atau bahkan
Divisi Utama dan LPI juga ikut serta berprestasi sampai internasional seperti
halnya LSI. Persatuan adalah hal mutlak yang wajib dilaksanakan dalam sepakbola
karena sepakbola sendiri butuh kerja sama yang baik. Kerja sama yang tidak
hanya berasal dari pemain yang berada di lapangan, tetapi juga suporter dan
juga pengurus sepakbola.
Masalah yang menimpa Tim Nasional maupun Liga lokal
kita sudah terlalu berlarut-larut. Garuda kita sampai tersungkur di peringkat
170 FIFA sementara Liga lokal terus-menerus diderai masalah, baik itu dari
dalam tim maupun dari suporter yang kurang bertanggung jawab. Klub Eropa
menyapa tim nasional kita sedangkan klub lokal mendapat kerja sama dari sponsor
ataupun tim-tim elit dunia. Semoga kesempatan seperti ini mampu bersama-sama dimanfaatkan
dengan bijaksana untuk memperbaiki sepakbola kita.
SELESAI...